Sebelum sejarah mengenal kata kerajaan, sebelum kalender mampu menghitung waktu, dunia berada dalam sebuah keheningan yang nyaris abadi. Manusia dan hewan hidup berdampingan tanpa hukum, tanpa mahkota, tanpa doa yang meminta keselamatan dari langit. Bumi memberi, dan mereka menerima. Hutan tumbuh tanpa ditebang, sungai mengalir tanpa darah, dan malam datang tanpa rasa takut.
Namun kedamaian adalah sesuatu yang rapuh—ia tidak pecah oleh bencana, melainkan oleh pikiran.
Seiring waktu, manusia berkembang biak dan memenuhi daratan. Dari keramaian itulah benih pertama kejatuhan tumbuh: ego, keserakahan, dan kemunafikan. Awalnya ia tak terlihat, hanya berupa bisikan kecil dalam hati—keinginan untuk memiliki lebih, untuk berkuasa, untuk dipuja. Tapi pikiran yang berulang akan menjadi emosi, dan emosi yang membusuk melahirkan sesuatu yang lebih gelap dari malam.
Energi negatif itu berkumpul.
Ia tidak berteriak, tidak meledak. Ia mengental, berdenyut, lalu lahir.
Di tengah kehampaan, muncul sebuah entitas—bola hitam raksasa tanpa wajah, tanpa bentuk tetap, seolah ruang di sekitarnya runtuh dan ditelan olehnya. Ia menamai dirinya Chaos. Bukan sebagai gelar, melainkan sebagai pengakuan akan hakikatnya.
Chaos tidak berjalan. Ia mengada. Dari tubuhnya, ia merobek bagian-bagian dirinya sendiri, membentuk makhluk-makhluk yang akan menjadi kepanjangan kehendaknya. Minotaur dengan otot dan amarah tanpa kendali. Cyclops bermata tunggal yang memandang dunia sebagai target. Ifrit yang bernapas api kehancuran. Succubus pemangsa kehendak. Ogre yang menjadikan kekuatan sebagai hukum.
Setelah menciptakan mereka, Chaos menghilang—menitipkan kekuatannya pada ciptaan-ciptaannya, seolah ia tahu bahwa kehancuran sejati tidak membutuhkan kehadiran sang pencipta.
Tiga tahun berlalu.
Pada tahun ketiga, monster-monster itu naik ke permukaan dunia. Jumlah mereka hampir menyamai manusia. Alam dirusak, hutan dibakar, gunung dilubangi, sungai menjadi merah. Manusia yang tak pernah mengenal perang kini mengenal kematian massal. Jeritan menggantikan nyanyian, dan malam menjadi waktu berburu.
Dalam keputusasaan, manusia berpikir—bukan untuk hidup damai, tetapi untuk bertahan.
Maka lahirlah senjata.
Pedang untuk menebas, tombak untuk menusuk dari jauh, tameng untuk menunda kematian beberapa detik lebih lama. Kayu ditebang, batu ditumpuk, benteng-benteng pertama berdiri—rapuh, namun penuh harapan. Manusia menyerang balik.
Peperangan itu berlangsung 500 tahun.
Generasi demi generasi lahir langsung ke medan perang dan mati tanpa pernah melihat dunia yang damai. Senjata berkembang, benteng diperkuat, strategi diciptakan—namun monster tidak pernah benar-benar habis. Jutaan nyawa manusia hilang, dan harapan menjadi sesuatu yang mahal.
Ketika dunia hampir menyerah, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Jiwa-jiwa manusia yang gugur—jutaan jumlahnya—tidak menghilang. Mereka berkumpul di batas antara hidup dan ketiadaan, memanjat satu keinginan yang sama: membalikkan takdir. Dari tumpukan harapan yang terdistorsi oleh penderitaan itu, lahirlah sebuah entitas baru.
Ia adalah Naga.
Naga primordial itu dinamai manusia sebagai Arclaus. Tubuhnya menjangkau langit, sisiknya memantulkan realitas, dan di dalam dirinya mengalir enam elemen: Cahaya, Kegelapan, Api, Air, Tanah, dan Udara. Arclaus bukan dewa, bukan pula monster—ia adalah manifestasi harapan yang menolak mati.
Dengan Arclaus, manusia kembali berperang.
Seratus tahun berikutnya, dunia kembali diguncang. Kali ini, monster mengenal rasa takut. Api melawan api, kegelapan melawan kegelapan. Arclaus menghancurkan sarang-sarang monster, memecah dominasi mereka, memaksa mereka bersembunyi. Perang itu dimenangkan oleh manusia—untuk sementara.
Satu tahun setelah perang berakhir, Arclaus melakukan sesuatu yang tak pernah diprediksi.
Ia memecah dirinya.
Enam bagian jatuh ke dunia dan menjelma menjadi naga-naga baru—masing-masing membawa elemen dan sifat jiwa yang berbeda:
Kepada mereka, Arclaus menitipkan dunia.
Para naga ini ditugaskan menjaga wilayah masing-masing, membimbing manusia, mengajarkan sihir, dan seni bertarung. Ingatan Arclaus tetap hidup di dalam diri mereka—sebagai warisan, sekaligus beban.
Setelah itu, Arclaus lenyap sepenuhnya.
Era ini kelak dikenal sebagai Void Era—awal mula dari segalanya.
Lima ribu tahun kemudian, dunia akan kembali berubah. Dan sejarah akan membuktikan bahwa kehancuran tidak pernah benar-benar selesai—ia hanya menunggu bentuk baru.